Lompati ke konten utama

Manajemen Pemupukan Susulan dan Nutrisi Organik

Manajemen pemupukan merupakan salah satu kunci utama dalam budidaya padi organik untuk memastikan tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup sepanjang siklus hidupnya. Berbeda dengan pertanian konvensional yang mengandalkan pupuk kimia sintetis berbiaya tinggi, sistem organik memanfaatkan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan dan hemat biaya. Dengan pengelolaan nutrisi yang tepat, tanah tetap subur secara berkelanjutan dan tanaman padi dapat tumbuh optimal serta berproduksi tinggi.


Berikut adalah tiga strategi penting dalam mengelola pemupukan susulan dan nutrisi organik pada tanaman padi:

1. Aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) Buatan Sendiri dari Bahan Nabati atau Limbah Rumah Tangga

Penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) menjadi solusi efektif untuk menyuplai nutrisi tambahan secara cepat melalui daun maupun akar tanaman. POC dapat dibuat secara mandiri memanfaatkan limbah organik rumah tangga, seperti air cucian beras, kulit pisang, cangkang telur, serta sisa sayuran hijau yang difermentasi dengan bantuan mikroorganisme pengurai.

POC berbahan dasar limbah dapur dan tanaman nabati kaya akan hara makro serta mikro, seperti nitrogen, fosfor, kalium, dan hormon pertumbuhan alami. Pemberian POC dilakukan dengan cara disemprotkan ke permukaan daun pada pagi atau sore hari saat stomata daun terbuka. Selain menyuburkan tanaman, nutrisi cair ini juga membantu meningkatkan aktivitas mikroba baik di dalam tanah.


2. Jadwal Pemupukan Berkala pada Fase Vegetatif dan Generatif

Pemberian nutrisi pada tanaman padi harus disesuaikan dengan kebutuhan pada setiap tahapan pertumbuhannya. Pemupukan yang tidak teratur atau salah sasaran dapat membuang-buang bahan dan tidak memberikan hasil yang maksimal.

Fase Vegetatif (10–30 Hari Setelah Tanam): Pada fase pembentukan pembentukan akar, batang, dan anakan ini, tanaman padi membutuhkan pasokan Nitrogen (N) yang tinggi. Aplikasi POC dari bahan kaya nitrogen (seperti fermentasi daun gamal atau urin ternak) disemprotkan secara berkala setiap 7 hingga 10 hari sekali untuk memacu perumpunan yang lebat dan tajuk daun yang hijau kokoh.

Fase Generatif (35–60 Hari Setelah Tanam): Saat tanaman memasuki masa bunting dan pembungaan, kebutuhan hara beralih ke Fosfor (P) dan Kalium (K). Pemupukan pada fase ini memanfaatkan POC berbahan ekstrak sabut kelapa, batang pisang, atau cangkang telur. Nutrisi ini berfungsi memperkuat batang, mengoptimalkan pengisian bulir padi, serta mencegah kepenuhan bulir yang hampa.


3. Pemanfaatan Tanaman Penambat Nitrogen (Azolla) di Sekitar Rumpun Padi

Azolla adalah tumbuhan paku air kecil yang hidup bersimbiosis dengan anabaena (sianobakteri) yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menambat nitrogen bebas dari udara. Pemanfaatan Azolla di sela-sela rumpun padi merupakan metode pemupukan hayati yang sangat menghemat biaya operasional.

Azolla yang ditebar di sawah akan berkembang biak dengan cepat menutup permukaan air. Keberadaannya memberikan dua manfaat sekaligus: saat masih hidup, Azolla menekan pertumbuhan gulma dan mengurangi penguapan air; ketika mati dan membusuk, Azolla terdekomposisi menjadi pupuk hijau yang kaya akan nitrogen siap serap bagi tanaman padi. Pembusukan alami ini secara berkala terus memperkaya kandungan bahan organik di dalam tanah sawah.